Prolog : Sebenarnya tulisan ini saya konsep untuk diikutsertakan dalam sayembara catatan perempuan Ibu Profesional. Namun naas, ketika hari terakhir dateline pengumpulan, mendadak tamu tak diundang (baca:banjir) bertamu ke rumah saya😂. Kaki saya lemes, ga bisa membayangkan membersihkan isi rumah yang terlanjur basah, akhirnya saya tidur kecapek'an dan terbangun jam 2 malam😆. Padahal waktu pengumpulan jam 12 teng cinderella. Qadarullah, akhirnya daripada tulisan ini hanya parkir di notes hp saya, mungkin ada yang tergugah ingin membacanya. Jadi lebih baik saya menuhin konten blog saya aja.. hhe..
Kemajuan dunia teknologi kini menjadi hal yang tak dapat terelakkan. Hampir semua lini kehidupan membutuhkan teknologi informasi untuk beraktifitas. Akses untuk menerima informasi pun tidaklah sulit. Banyak perangkat canggih terus diperbaharui, berita dari belahan dunia lain pun seolah telah berada dalam genggaman. Secepat sinyal kabel optik, hitungan detik. Perempuan, terutama seorang Ibu adalah salah satu user teknologi itu sendiri.
Mulai dari fajar menyingsing hingga terbenamnya matahari, kita kerap menggunakannya. Mulai dari melihat aplikasi jadwal sholat, mengecek pesan grup dari kantor/komunitas,membuat konten edukatif instagram, berjualan di market place, promo bisnis hingga sharing tausiyah gratis melalui whatssapp status, bahkan saat saya mengkonsep tulisan ini di aplikasi notes handphone saya, saya menggunakan teknologi. Wah semuanya terdigitalisasi. Tak menyangka hingga di titik menjadi seorang ibu pun, saya sering berinteraksi dan belajar bersama anak melalui media digital. Membersamai mereka di era kemajuan IT saat ini membuat kegiatan belajar mengajar menjadi sangat fun dan seru. Sebagai user, kita dituntut untuk berteknologi secara bijak. Menghindari pesan berantai hoax dan memposting hal yang tidak berfaedah merupakan sebuah langkah bijak dalam bermedia sosial.
Anak saya yang merupakan generasi alfa, tentunya dianggap sebagai masa depan ekonomi global. Oleh karena itu, peran saya sebagai ibu dan perempuan juga harus ikut update layaknya software terbarukan😄. Pola pikir anak semakin kritis, pertanyaan-pertanyaan yang sering mereka ajukan juga semakin membuat saya gugup. Dalam hati sering saya berkata :
Apakah saya sudah menjawab pertanyaan mereka dengan benar? Bagaimana jika anak tidak puas dengan jawaban saya atau ada yang ingin saya ralat?
tentunya saya akan mengajak mereka googling bersama. Selain menjelaskan bahwa mesin pencarian tersebut memiliki algoritmanya tersendiri, juga anak-anak saya ajak untuk berpikir ala critical thinking bahwa teknologi itu semakin memudahkan kita dalam melakukan berbagai aktifitas.
Dengan teknologi, saya mengajarkan zaki (anak sulung saya) untuk mencoba menggambar melalui aplikasi handphone, membuat ilustrasi di canva, sebagai dubber ketika kami membuat video untuk diupload ke youtube, dan menjawab kuis-kuis pelajaran di aplikasi kahoot atau quizizz. Dan bukan tidak mungkin besok ketika mereka melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi, saya juga akan mengajak mereka memanfaatkan bimbel belajar online interaktif seperti ruangguru atau zenius (karya anak bangsa yang membanggakan). Di masa depan, terbuka peluang yang sangat lebar bahwa profesi-profesi yang akan makin diminati adalah yang tidak jauh seputar dunia teknologi, mungkin mereka bercita-cita untuk menjadi youtuber, blogger, web developer, apps creator/developer, big data analyst, dll.
Untuk menopang masa depannya meraih mimpi dan cita-cita yang lebih tinggi, saya juga memanfaatkan teknologi untuk membuka rekening dana pendidikan anak secara online, berinvestasi di pasar saham syariah untuk mengakumulasi dana pendidikan mereka agar bisa melawan inflasi, serta mengajari mereka konsep menabung secara online. Semoga anak memahami bahwa untuk mempersiapkan masa depan, ada hal-hal yang harus dia korbankan di masa kini untuk meraih hal yang lebih besar di masa depan, contohnya dengan mengajak mereka menabung dibandingkan membelanjakan uang yang mereka punya.
Saya menyadari bahwa dengan semakin masifnya penyebaran informasi melalui IT, pengaruh negatif akan tetap ada. Untuk itu, sebagai ibu saya tetap waspada dan harus terus semangat mengedukasi mereka mengenai pentingnya literasi digital agar jangan sampai anak terbawa arus informasi yang menyesatkan, atau bahkan anak secara tidak sadar meng-upload konten tidak senonoh/ tidak elok yang merupakan ranah privilege-nya.
At the end, kita tidak bisa menjauhkan diri dari pesatnya kecanggihan arus teknologi, tapi kita sendirilah yang harus terus memompa semangat juang untuk berbenah lebih baik dalam segala hal yang mana segala aktifitasnya dipermudah melalui teknologi itu sendiri.
Stay wise,
Keep updated
And be in the fore !!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar