Sabtu, 09 Oktober 2021

Perempuan di Era Digital

Prolog : Sebenarnya tulisan ini saya konsep untuk diikutsertakan dalam sayembara catatan perempuan Ibu Profesional. Namun naas, ketika hari terakhir dateline pengumpulan, mendadak tamu tak diundang (baca:banjir) bertamu ke rumah saya😂. Kaki saya lemes, ga bisa membayangkan membersihkan isi rumah yang terlanjur basah, akhirnya saya tidur kecapek'an dan terbangun jam 2 malam😆. Padahal waktu pengumpulan jam 12 teng cinderella. Qadarullah, akhirnya daripada tulisan ini hanya parkir di notes hp saya, mungkin ada yang tergugah ingin membacanya. Jadi lebih baik saya menuhin konten blog saya aja.. hhe.. 

      pict by : pinterest

Kemajuan dunia teknologi kini menjadi hal yang tak dapat terelakkan. Hampir semua lini kehidupan membutuhkan teknologi informasi untuk beraktifitas. Akses untuk menerima informasi pun tidaklah sulit. Banyak perangkat canggih terus diperbaharui, berita dari belahan dunia lain pun seolah telah berada dalam genggaman. Secepat sinyal kabel optik, hitungan detik. Perempuan, terutama seorang Ibu adalah salah satu user teknologi itu sendiri. 

Mulai dari fajar menyingsing hingga terbenamnya matahari, kita kerap menggunakannya. Mulai dari melihat aplikasi jadwal sholat, mengecek pesan grup dari kantor/komunitas,membuat konten edukatif instagram, berjualan di market place, promo bisnis hingga sharing tausiyah gratis melalui whatssapp status, bahkan saat saya mengkonsep tulisan ini di aplikasi notes handphone saya, saya menggunakan teknologi. Wah semuanya terdigitalisasi. Tak menyangka hingga di titik menjadi seorang ibu pun, saya sering berinteraksi dan belajar bersama anak melalui media digital. Membersamai mereka di era kemajuan IT saat ini membuat kegiatan belajar mengajar menjadi sangat fun dan seru. Sebagai user, kita dituntut untuk berteknologi secara bijak. Menghindari pesan berantai hoax dan memposting hal yang tidak berfaedah merupakan sebuah langkah bijak dalam bermedia sosial. 

Anak saya yang merupakan generasi alfa, tentunya dianggap sebagai masa depan ekonomi global. Oleh karena itu, peran saya sebagai ibu dan perempuan juga harus ikut update layaknya software terbarukan😄. Pola pikir anak semakin kritis, pertanyaan-pertanyaan yang sering mereka ajukan juga semakin membuat saya gugup. Dalam hati sering saya berkata :

Apakah saya sudah menjawab pertanyaan mereka dengan benar? Bagaimana jika anak tidak puas dengan jawaban saya atau ada yang ingin saya ralat? 

tentunya saya akan mengajak mereka googling bersama. Selain menjelaskan bahwa mesin pencarian tersebut memiliki algoritmanya tersendiri, juga anak-anak saya ajak untuk berpikir ala critical thinking bahwa teknologi itu semakin memudahkan kita dalam melakukan berbagai aktifitas. 


      pict by : pinterest

Dengan teknologi, saya mengajarkan zaki (anak sulung saya) untuk mencoba menggambar melalui aplikasi handphone, membuat ilustrasi di canva, sebagai dubber ketika kami membuat video untuk diupload ke youtube, dan menjawab kuis-kuis pelajaran di aplikasi kahoot atau quizizz. Dan bukan tidak mungkin besok ketika mereka melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi, saya juga akan mengajak mereka memanfaatkan bimbel belajar online interaktif seperti ruangguru atau zenius (karya anak bangsa yang membanggakan). Di masa depan, terbuka peluang yang sangat lebar bahwa profesi-profesi yang akan makin diminati adalah yang tidak jauh seputar dunia teknologi, mungkin mereka bercita-cita untuk menjadi youtuber, blogger, web developer, apps creator/developer, big data analyst, dll. 

Untuk menopang masa depannya meraih mimpi dan cita-cita yang lebih tinggi, saya juga memanfaatkan teknologi untuk membuka rekening dana pendidikan anak secara online, berinvestasi di pasar saham syariah untuk mengakumulasi dana pendidikan mereka agar bisa melawan inflasi, serta mengajari mereka konsep menabung secara online. Semoga anak memahami bahwa untuk mempersiapkan masa depan, ada hal-hal yang harus dia korbankan di masa kini untuk meraih hal yang lebih besar di masa depan, contohnya dengan mengajak mereka menabung dibandingkan membelanjakan uang yang mereka punya. 

Saya menyadari bahwa dengan semakin masifnya penyebaran informasi melalui IT, pengaruh negatif akan tetap ada. Untuk itu, sebagai ibu saya tetap waspada dan harus terus semangat mengedukasi mereka mengenai pentingnya literasi digital agar jangan sampai anak terbawa arus informasi yang menyesatkan, atau bahkan anak secara tidak sadar meng-upload konten tidak senonoh/ tidak elok yang merupakan ranah privilege-nya. 

At the end, kita tidak bisa menjauhkan diri dari pesatnya kecanggihan arus teknologi, tapi kita sendirilah yang harus terus memompa semangat juang untuk berbenah lebih baik dalam segala hal yang mana segala aktifitasnya dipermudah melalui teknologi itu sendiri. 

Stay wise, 
Keep updated
And be in the fore !! 




Jumat, 08 Oktober 2021

Belajar Kaya Ala Warren Buffet



Bagi Anda yang bergelut di dunia pasar modal, mungkin sudah tidak asing lagi mendengar nama Warren Buffet. Ya...Beliau adalah seorang investor kawakan dunia yang menjadi orang terkaya keenam di dunia setelah kekayaan bersihnya melonjak hampir $ 24 miliar (Rp 344 Triliun) dalam waktu 5 bulan (data Maret 2021, cnnindonesia). Bagi yang belum tahu, sebenarnya siapa sih WB ini ? Yuk kita simak profil lengkapnya 👇





Warren Edward Buffett (lahir 30 Agustus 1930) adalah seorang investor, pengusaha, dan filantropis asal Amerika Serikat. Buffett adalah komisaris, direktur utama, dan sekaligus pemegang saham terbesar di Berkshire Hathaway. Majalah Time memasukan Buffett sebagai salah satu orang paling berpengaruh di dunia.

Buffett sering disebut "Wizard of Omaha" (Penyihir dari Omaha) atau "Oracle of Omaha" (Peramal dari Omaha), dan dikenal karena kesetiaannya pada metode investasi value investing, dan untuk gaya hidupnya yang frugal meskipun memiliki kekayaan yang begitu besar. Buffett juga adalah seorang filantropis yang sangat berdedikasi, yang bersumpah akan menyumbangkan 99% kekayaannya untuk keperluan-keperluan filantropi, mayoritas via Gates Foundation (wikipedia) 

Sebenarnya apa si yang diterapkan WB sehingga dia bisa menjadi seperti sekarang ini? Yuk kita simak nasihat investasinya👇 


Untuk kaum milenial seperti saya, terkadang niat untuk berinvestasi sering terdistraksi oleh gaya hidup/lifestyle ala feed instagram😂. Percayalah bahwa kehidupan instagram itu kebanyakan manipulatif..😁.Hal ini mendorong tingkat konsumsi masyarakat semakin meningkat. Yah sebenarnya si juga positif-positif aja untuk menggerakkan perekonomian. Tapi untuk kita pribadi, kita juga harus memiliki target yang terukur untuk bisa hidup bebas finansial di masa depan. Ga mau kan harus kerja rodi mpe tua? 

Yang penting, gaya hidup itu haruslah dibawah kemampuan (jangan dibalik ya). Yah kalau untuk memenuhi semua keinginan kita si memang ga akan pernah ada habisnya. Sikap hidup sederhana ala WB diatas bisa kita tiru sehingga kita tetap dapat mempertahankan kekayaan dan berupaya agar keturunan kita kelak tidak menjadi the next sandwich generation. 

Salam cuan😎



Jumat, 01 Oktober 2021

Apakah kita termasuk overthinking?

Sebagai makhluk sosial, tak dapat dipungkiri bahwa rasanya dunia berputar terus-menerus. Mulai dari bangun tidur, hingga tidur lagi.. Ahh.. terlalu banyak cerita. Eitsss... bener ga si kalau semua itu harus semuanya dipikirkan? Dunia yang selalu berputar, atau pikiran kita yang terlalu sibuk memikirkannya? 

Nah di inspirasi jum'at Ibu Profesional Kalbar, saya berbagi cerita dan sharing mengenai overthinking, salah satu isu dalam kesehatan mental yang sering dirisaukan kaum mileanial dan kaum alfa. Yukk kita simak. Coba cek apakah diri kamu termasuk?